Nama-nama Jakarta Sejak Pra-Kolonial hingga Milenial

0
39
Nama-nama Jakarta Sejak Pra-Kolonial hingga Milenial

SERIBUU.COM – Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta kini telah berusia 490 tahun. Rupanya wilayah yang kini menjadi Ibukota dari Indonesia pernah beberapa kali ganti nama.

Pada abad ke-14, Jakarta lebih dikenal dengan nama Sunda Kelapa. Nama itu melekat karena wilayahnya memang masuk ke teritorial Kerajaan Padjajaran.

BACA JUGA : Chat Salah Sambung Anita & Mas Pras Ini Bikin Ngakak Abis!!!!

“Sunda Kelapa, karena dulu Sunda Kelapa merupakan bagian dari kerajaan Sunda, yang kerajaanya berada di Bogor dengan rajanya Prabu Siliwangi. Ini namanya Sunda Kelapa karena ini bagian dari Sunda,” tutur staf Museum Sejarah Jakarta, Slamet Rusbandi, saat ditemui seribuu.com di kantornya, Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (22/6/2017).Sunda Kelapa merupakan pelabuhan yang terkenal di masa tersebut. Portugis kemudian memasuki wilayah Malaka pada tahun 1511, hingga akhirnya mengklaim Sunda Kelapa pada tahun 1522.Pada tahun 1527, Fatahillah dari Kesultanan Demak mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Dia kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.

“Diganti nama menjadi Jayakarta yang artinya kemenangan yang gilang gemilang. Nama itu diambil dari surat Al-Fath ayat 1 yang artinya: telah-Ku berikan atas kamu kemenangan yang sempurna,” ujar Slamet.

Jayakarta kemudian masuk dalam Kesultanan Banten. Jayakarta kemudian menjadi pusat perdagangan yang terkenal di Asia Tenggara.

Pangeran Jayawikarta dari Kesultanan Banten memiliki hubungan internasional yang cukup luas, termasuk dengan Belanda. Hingga akhirnya kapal Belanda berlabuh di Jayakarta pada tahun 1596. Pada tahun 1602, Inggris juga masuk ke wilayah Banten.

Hubungan Pangeran Jayawikarta dengan Belanda pun memburuk. Kesultanan Banten kemudian menyerang Belanda yang ada di Jayakarta.

Pada tahun 1619, Belanda menyerang Kesultanan Banten di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Tak hanya Kesultanan Banten, Inggris pun ikut diserang sehingga Belanda menancapkan teroterialnya di Jayakarta.

“Jayakarta berhasil digempur atau dibumihanguskan oleh VOC atau Belanda dan diganti namanya menjadi Batavia,” imbuh Slamet.

Batavia diambil dari nama suku yang menjadi asal muasal bangsa Belanda, Batavi. Suku Batavi hidup di wilayah–yang kini dikenal sebagai Belanda–sebelum pendudukan bangsa Romawi pada 12 tahun sebelum masehi.

JP Coen mengabadikan nama Suku Batavi di wilayah yang dia klaim ini. Hingga akhirnya setiap sensus yang dilakukan Belanda di masa penjajahan, menempatkan suku Melayu, Sunda, Banten, Batak, Bugis, Ambon sebagai suku Batavi. Nama Batavi kemudian menjadi ‘Betawi’ dalam dialek Melayu.

Sistem pemerintahannya pun diubah sehingga namanya menjadi Stad Batavia. Sempat berubah menjadi Gemeente Batavia pada 1905 kemudian berubah lagi menjadi Stad Batavia pada 1935, seperti dikutip dari situs Kemkominfo.

Pada tahun 1942, Jepang mengalahkan pendudukan Belanda di Batavia. Nama Batavia pun sempat diganti menjadi Toko Betsu Shi. Jika diterjemahkan kasar artinya bisa menjadi ‘jauhkan perbedaan’.

Hingga akhirnya pada 1945 Jepang menyerah kepada sekutu dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, nama Toko Betsu Shi tak dikenal lagi. Sayangnya arsip tentang pendudukan Jepang di Museum Sejarah Jakarta tak tersimpan.

“Mohon maaf dikatakan pada tahun 1942 saat Jepang menguasai gedung ini dan digunakan sebagai markas logistik tentara Nippon, jadi saat Hiroshima – Nagasaki dihancurkan di sana oleh sekutu, jadi pada saat Jepang hengkang dari gedung ini semua data-data yang ada di gedung ini arsipnya dibakar oleh tentara Jepang. Jadi ini arsipnya putus untuk sejarah Jepang di gedung ini,” tutur Slamet.

Pemerintahan Indonesia kemudian mengganti namanya menjadi Jakarta yang merupakan kependekan dari Jayakarta. Pada tahun 1950 kemudian diganti lagi menjadi Kota Praja Jakarta.

“Dewan Kota Praja itu sekitar tahun 1950 jadi dulu kan ada bangsa pengalihan tahun 1950, Dewan Kota Praja itu dibuat untuk tatanan perkotaan,” kata Slamet.

Ibukota RI sempat dipindah ke Yogyakarta ketika Belanda kembali datang. Saat itu Jakarta sempat beralih nama menjadi Stad Gemeente Batavia. Hanya berkisar 1 bulan, namanya kemudian menjadi Kota Praja Jakarta pada Maret 1950.

Lewat keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956, HUT Jakarta ditetapkan pada 22 Juni yang merujuk pada kemenangan Fatahillah atas Sunda Kelapa. Kemudian melalui PP no 2 Tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961, dibentuklah pemerintahan Daerah Khusus Ibukota Jakarta sekaligus menetapkan nama wilayah tersebut hingga kini.

LEAVE A REPLY