Goa Gong, Berpetualang ke Perut Bumi Pacitan

0
24

Seribuu.com- Di tengah kawasan yang terkenal kering dan tandus dikelilingi dengan pegunungan kapur, perut Kota Berjuta Goa ini memiliki pesona alam yang memikat. Goa Gong salah satu pemikatnya.

Tak mengherankan bila Pacitan mendapat julukan Kota Berjuta Goa. Diantara kerasnya gunung batu yang gersang di wilayah Pacitan, banyak sekali ditemukan goa-goa dengan kontur dan karakter yang istimewa. Kota Pacitan memiliki sejumlah goa yang terkenal memamerkan keindahan perut bumi. Seperti Goa Gong, Goa Tabuhan, Goa Putri, Goa Song Terus, Goa Kalak dan masih banyak lagi.

Salah satu yang paling indah di Asia Tenggara adalah Goa Gong. Goa Gong menyajikan  pemandangan stalaktit dan stalakmit yang begitu menakjubkan. Stalaktit dan stalakmit yang dimiliki Goa Gong telah berusia ratusan tahun. Satalaktit dan stalakmit yang ada di goa ini rata-rata tiap tahunnya tumbuh sepanjang 0,1 hingga 0,13 mm. Karena itu, sangat penting bagi pengunjung untuk tidak menyentuh stalakmit dan stalaktit untuk menjaga pertumbuhannya.

* Irama Tetesan Air
Nama Goa Gong diambil dari suara tetesan air yang berasal dari dalam goa, yang mengenai stalaktit dan stalakmit sehingga menimbulkan bunyi yang terdengar harmonis dan indah.  Keistimewaan Goa Gong adalah bangun ruangannya yang berupa kubah raksasa sepanjang sekitar 100 m, lebar 15-40 m, dan tinggi antara 20-30 m. Mulut goa berupa lorong pendek penuh dengan stalaktit dan stalakmit menghubungkan dengan ruangan goa berkubah tersebut.

Banyak terdapat stalakmit yang permukaannya berlapis flowstone, sehingga terlihat seperti bertumpuk-tumpuk membentuk ornamen-ornamen. Setiap kumpulan ornamen ini diberi nama lokal yang menarik seperti Selo (batu) Jengger Bumi, Selo Paku Buwono, Selo Bantaran Angin, Selo Gerbang, Selo Citro Cipto Agung, Selo Adi Citro Buwono dsb.

Untuk menikmati keindahan di dalam Goa Gong pengunjung tak perlu khawatir. Di dalam goa telah dipasang sejumlah lampu warna-warni yang semakin menambah keindahan goa.

*  Mata Air Abadi
Konon Goa Gong dianggap angker, karena sering terdengar suara mirip suara gong dari dalam goa. Berdasarkan cerita temurun seperti termaktub di salah satu dinding goa, goa ini pertama kali ditemukan oleh dua sesepuh Desa Bomo, yakni Mbah Noyo Soemito dan Mbah Joyo Rejo.

Keduanya menemukan goa Gong secara tak sengaja saat Pacitan dilanda kekeringan pada 1924. Di dalam goa, keduanya mendapati empat mata air yang tak pernah kering hingga kini.

Sepeninggal Mbah Noyo, Goa Gong tidak pernah lagi didatangi penduduk. Hingga kemudian pada Maret 1995, masyarakat setempat mencari kembali keberadaan goa ini dan berniat membukanya untuk umum.

Goa Gong pertama kali dieksplorasi pada 1995 oleh Wakino dan kawan-kawan, yang merupakan penduduk asli setempat. Kemudian pada 1996 direnovasi oleh Pemda Pacitan dengan dibangunnya prasarana seperti undak-undakan (tangga), pagar pengaman, penerangan listrik dan kipas-kipas penyejuk goa agar pengunjung nyaman dan dimudahkan menjelajah di dalam perut goa.

*  Goa Empat Sendang
Di dalam Goa Gong, selain stalaktit dan stalakmit yang memesona, saat menyusuri dalam goa akan menemukan tujuh ruangan dan empat sendang, yaitu kolam pemandian atau sungai mata air yang tersembunyi. Sementara keindahan alami goa dapat dinikmati dengan menyusuri jalan setapak, berpagar besi sepanjang kurang lebih 300 hingga 500 meter.

Tiap ruang dalam goa ini memiliki luas yang berbeda yang menawarkan beragam keindahan. Ruang seolah disekat dengan pintu kecil penghubung antar-ruang. Untuk menyusurinya, pengunjung harus meniti tangga menurun, yang sengaja disediakan untuk kepentingan dan keamanan para wisatawan.

Lampu sorot warna-warni yang dipasang memberikan efek khusus pada stalaktit dan stalakmit yang berwarna dasar kuning gading atau coklat kekuningan. Itu membuat keindahan dalam goa kian elok.

LEAVE A REPLY